Senin, 03 Desember 2012

APRESIASI PUISI 'MEMELUK ANAK-ANAK DENGAN PUISI'



MEMBACA PUISI MEGA VRISTIAN SAMBODO
“MEMELUK  ANAK-ANAK DENGAN PUISI”
SEBUAH APRESIASI

OLEH  OSCAR AMRAN

Secara langsung, saya tidak mengenal sosok Mega Vristian Sambodo, tapi banyak mengenal dan membaca beberapa karya-karya puisinya, yang salah satu tergabung dalam satu antologi bersama. Menarik bagi saya ketika Mega Vristian Sambodo mengirimkan delapan judul puisi bertema ‘Memeluk Anak-Anak Dengan Puisi’ membuat saya tersentak, itu kesan pertama membaca puisi-puisinya. Ingatan saya mengelana ke sebuah tempat yang bernama Hong Kong, kota metropolitan. Kota yang menjadi pusat perdagangan di Asia dan menjadi surga wisata dunia.

Membaca puisi-puisi Mega Vristian SambodoMemeluk Anak-Anak Dengan Puisi’ secara keseluruhan bercerita seputar kehidupan keseharian yang bergulir di negara di mana MVS menjadi bahagian puluhan ribu tenaga kerja Indonesia atau disebut juga ‘Buruh Migran Indonesia’ (BMI) dan istilah keren dari pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Devisa.

Menjadi wanita pekerja, seperti bangau yang terbang tinggi, bukanlah sesuatu yang mudah dan tidak ringan. Perjalanan jarak tempuh yang tak lagi diukur dengan kilometer tapi diukur dengan semangat dan keinginan merubah nasib yang tentunya sarat segala permasalahan, dinamika dan romantika. Puisipun lahir, berkata-kata dalam kebisuan cahayanya, menggema menyuarakannya kepada kita dari rahim pergulatan batin dan perenungan dalam seorang penyair senior Mega Vristian Sambodo (MVS)

MVS dengan keluwesan sikap, bercermin kelembutan dan sebagai seorang ibu, inspirasi dan daya jelajah imajinasinya sungguh luar biasa. Tutur yang lugas dan visualisasi dalam keindahan syair-syair ke semua puisinya, MVS mengoda dan menggelitik saya terus menyelami karyanya.

Pada puisi pembuka ‘Namaku Leung Lai Ching’ menguak cerita keseharian kehidupan sebuah keluarga, tentang seorang anak bernama Leung.

namaku Leung lai ching
aku lahir di Hung Hom, Hong Kong
orang tuaku penjual bunga-bunga kematian
rumahku bersebelahan dengan tempat pembakaran mayat
sejak kecil aku diajarkan makan dengan sumpit
setiap pagi,
bangun tidur setelah cuci muka dan sikat gigi
membakar dupa dan memasang sesaji untuk mengingat leluhur
mataku sipit kulitku putih
dibakar matahari pun akan kembali putih
kerjaku cuma sekolah
menjalani berbagai kursus agar pintar dan selebihnya bermain
membantu membersihkan rumah aku tak pernah
sebab ada pembantu yang bersamaku
anak-anak di negaraku hampir semua begitu
para ibu lebih suka bekerja dari pada mengurus anak dan rumahnya
atau mereka menghabiskan waktu di meja Mah Jong
setiap pulang kerja ayah menggerutu, tak ada pembeli
bunga-bunga akan layu hilang wangi
jadi timbunan sampah menyedihkan hati
tapi diam-diam aku bersorak kegirangan
tak akan ada rasa takut dikejar hantu

              
MVS dengan bahasa sederhana, menuturkan keseharian keluarga Leung. Puisi ini memuat potret masyarakat Hong Kong yang sibuk dengan pekerjaan dan meninggalkan anak-anaknya dengan orang lain atau pembantu di rumah. Hanya sejengkal di mata MVS, di mana ia terlibat menjadi bahagian keluarga Leung ini.
***

Keindahan tentu menjadi daya tarik sebuah tempat dengan suasana yang hidup, semangat hidup akan meneranginya sepanjang pagi dan malam hari. Pada puisi ‘Terang Bulan di Hong Kong” seorang MVS begitu piawai menggambarkan suasana Kota Hong Kong di malam hari.

TERANG BULAN DI HONG KONG


lihatlah rembulan bercahaya indah menyinari bumi
mari anak-anak ambil lampion nyalakan
agar gelap malam makin terang
kau lihat di taman-taman dan sepanjang dermaga
semua kawan
membuat pesta membawa kue rembulan dan buah-buahan
bersama orang tua bergembira
menyanyi dan menari bersama dewi rembulan

***( Hung Hom, Hong Kong, Moon cakes Festival)

Puisi yang sangat indah, terlihat suasana gemerlap saat pesta bertabur cahaya dan lampion yang berjejer menggantung malam dengan cahaya yang indah berkilau.

Membuat pesta /membawa kue rembulan dan buah-buahan/ bersama orangtua bergembira/menyanyi dan menari bersama dewi rembulan

Di puisi ini,  MVS juga memperlihatkan sisi sosial masyarakat Hong Kong yang lekat dan kental dengan budaya mereka. Pada saat tertentu mereka bergembira bersama melepas penat dalam kesibukan dan padatnya rutinitas, membebaskan diri dari kehidupan sehari-hari.
***
 
Pada puisi ‘Imlek’, kembali penyair wanita ini merekam dengan baik dan sangat detail, dengan lincah melukis kata-kata indahnya suasana pada perayaan imlek di Hong Kong. Suasana bahagia merwarnai puisinya. Saya menikmati setiap larik puisinya.
Mari kita simak puisinya :

                        IMLEK

Menandai pergantian tahun
aku dan nenek Leung Shiu
dihajar kesibukan
rumah dicuci bersih agar sial tahun lalu hilang tak terulang
mandi rendaman daun jeruk katanya agar suci
bunga-bunga bermekaran di Pot bunga
berdamping sesaji untuk para dewa
kwaci, gula-gula siap di meja
sebentar hari lagi kerabat saling berdatangan
memakai pakaian adat indah
berpeluk sesaat sambil mengucapkan kata-kata bijak
bertukar angpau aneka warna
kusiapkan seperangkat alat Mah Jong
untuk mereka bermain judi
ini sekedar tradisi yang tak akan ditangkap polisi
kelakar canda tawa sambil meminum teh panas
dari cangkir kecil hijau berukir naga emas
kepul asap Hio dihembus angin
menari kesegala arah
diam-diam aku jadi kanak
menyelinap membuka angpao
Olala! bocah-bocah mengikutiku
kami tersenyum menahan gelak tawa

***( Hong Kong, Imlek)

Saya menikmati setiap larik puisi ‘Imlek’ ini. Mengalir indah dengan narasi yang lugas, dengan tiga larik 
kata-kata di endingnya enak disimak :

diam-diam aku jadi kanak/menyelinap membuka angpao/olala! bocah-bocah mengikutiku/kami 
tersenyum menahan gelak tawa.

Sejenak saya serasa hadir di keluarga di mana MVS telah mencurahkan tenaga dan perhatian penuhnya. 
Indah dan sempurna sekali puisinya. Suatu saat saya ingin berada di sana, memandang langit langit yang 
penuh lampion itu.
***

Hongkong ibarat permata yang menyilaukan setiap yang melihatnya. Menikmati  Hongkong dengan segala 
keindahan ketika musim semi menjelang adalah sebagai waktu terbaik. Musim semi itu terjadi di sekitar 
September sampai akhir Februari. MVS jeli sekali dalam memainkan imajinasi, menulis dalam momentum 
yang tepat.

Berikut  puisi ’Bunga Bauhinia’ yang bercerita tentang datangnya musim semi.

BUNGA BAUHINIA

wangi Bauhenia menandai datangnya musim semi
Bauhenia merekah indah menghias Hong Kong
kelopak bunga berguguran diterbangkan angin
berserakan di tanah selayak permadani
anak-anak memungutinya
ada yang berwarna putih, merah muda dan ungu
para orang tua tersenyum melihatnya
sambil mengenang masa muda
merajut cinta di bawah pepohonan Bauhinia
kakek Ong, menyematkan setangkai Bahunia
di kancing baju nenek Yin
tawa mereka pecah
rasa bahagia kian membuncah
seekor naga emas menggeliat dari sarangnya
lidahnya menjulur seakan mau menjilat matahari
anak-anak bersorak kegirangan

(Hong Kong, musim semi)

Di puisi ini, betapa jelas kepenyairan MVS, dalam kepiawaiannya menguak alam yang terkembang dan menjadikannya harmonis, bersentuhan dengan setiap hati mereka di musim semi itu. Bunga bauhinia menjadi lambang kebahagian seseorang kepada kekasih hatinya. Puisi yang mengesankan dan menyentuh hati. MVS berhasil memadukan suasana musim ini dengan bunga bauhinia, utuh.
***

Pada puisi ‘Hari Raya Hantu’ atau dikenal dengan ‘Ghost Festival’, adalah hari di mana Pintu Gerbang Neraka dibuka. Untuk menghindari agar ayah ibu yang telah meninggal dunia tidak mengalami penderitaan Neraka, maka dilaksanakanlah sembahyang kepada roh-roh, dewa dan hantu secara besar-besaran, mengharap agar roh-roh halus jangan menganiaya ayah ibu yang telah meninggal tersebut. Kegiatan sakral ini 
merupakan perwujudan rasa bakti kepada orang tua. 1)

Mega Vristian Sambodo (MVS) sangat jeli menuangkan syair-syairnya, mengajak imajinasi saya
mengembara di setiap lariknya, dengan ‘ending’ yang memukau.

HARI RAYA HANTU

langit gelap basah hening sunyi
di bulan tujuh malam lima belas
bakar terus dupa di antara lebatnya curah hujan
di hari Yue Lan, hantu-hantu bergentayangan dari neraka
mereka lapar dahaga bangkit setahun sekali
nenek merapal doa-doa
sambil membakar uang-uang imitasi
ayah menuang arak di gelas- gelas
ibu mengajarkan anak-anak
memasak untuk sesaji
sebagai makanan para hantu
jalanan lengang sepi semua bersembunyi
tak ingin melihat hantu-hantu rakus memakan sesaji
hantu-hatan berpesta pora memuaskan lapas memakan sesaji hingga menjelang pagi
hai kawan! jangan sesekali mengumbar emosi
ragamu bisa di pinjamnya nanti
tiba-tiba kau akan menjelma jadi hantu hiiiii…

( Hong Kong,Hungry Gost Festival)

Tiga puisi lainnya, Hang Shang Lion Rock Hill (Mendaki Gunung), Gunung Bakpao, Pesta Dayung Perahu (Dragon Boats Festival) menggambarkan suasana yang riuh dan kegembiraan menyenangkan di setiap keluarga masyarakat Hong Kong, yang terus memperingati dan merayakan tradisi yang sudah membudaya. Sama halnya dengan lima puisi sebelumnya, MVS berhasil mengungkap sisi sosial budaya dan masyarakat dan kehidupan keluarga Hong Kong dengan lugas dan memikat.
Puisi bertema ‘Memeluk Anak-anak Dengan Puisi’ menurut saya adalah bahagian penting yang ingin diungkap oleh seorang Mega Vristian Sambodo. Selama dua puluh tahun menjadi ‘pahlawan devisa’, beberapa karyanya berupa esai juga sempat saya baca, dan sering mengkritisi perlakuan yang kadang tidak manusiawi seperti yang sering dialami rekan-rekan berprofesi sama di banyak negara sebagai BMI.

Puisi ‘Memeluk Anak-Anak Dengan Puisi’ seraya ingin berkata kepada dunia bahwa tugas dan kewajiban yang dijalani mereka adalah dengan penuh kasih sayang, tanpa ada keterpaksaan kepada anak dari majikan mereka. Sikap bersahabat dalam melayani anak-anak mereka dan merasa bahagian dari mereka yang memperkerjakan.

Senang bisa membaca dan memaknai puisi-puisi Mega Vristian Sambodo dan memberikan sedikit ulasan tentang puisinya. Sebagai penyair wanita yang hebat, Mega Vristian Sambodo ke depan tentu akan melahirkan kembali puisi-puisi yang bernas, menarik dan indah untuk kita nikmati. Kita tunggu. Tabik!


1)   Sumber data : Blog Budaya Tionghoa
    Note : Oscar Amran : seorang penulis, penyunting dan penyair.
              Bertempat tinggal di Bogor-Jawa Barat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar